skip to Main Content
Rumah Untuk Anak Yang Terpinggirkan

Rumah untuk Anak yang Terpinggirkan

Kompas.com – 09/12/2012, 02:16 WIB

Lantunan musik, atraksi sulap, diskusi, dan lelang karya seni memeriahkan suasana Sanggar Anak Akar di Jalan Inspeksi Kalimalang, Gudang Seng RT 007 RW 001, Cipinang Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, Sabtu (8/12) siang.

Sekitar 30 anak asuh sekolah otonom berbagi kebahagiaan dengan rombongan Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (Iska) dan Ikatan Keluarga Eks SMA Katolik Santo Albertus (Ikesa) yang di antaranya adalah sejumlah remaja penerima penghargaan Kidpreneur dari Berita Anak Indonesia (Berani).

Sanggar Anak Akar yang didirikan pada November 1994 berawal dari gerakan open house untuk anak-anak yang disisihkan oleh masyarakat sejak 1989. Kegiatannya semakin beragam sehingga pada tahun 2000 pengelolaan Sanggar Anak Akar dilepas dari organisasi swadaya masyarakat.

Mulai 2000, Sanggar Anak Akar memusatkan kegiatan pada pendidikan berbasis pengalaman. Dengan bantuan donatur, lahan seluas 950 meter persegi di tepi Saluran Irigasi Tarum Barat (Kalimalang) dibeli pada 2003. Di sinilah ada rumah dua lantai, semipermanen, banyak ruang dan berhias ornamen, serta cukup sejuk yang menjadi pusat kegiatan Sanggar Anak Akar.

Sejak 2009, kegiatan pendidikan disempurnakan dengan aspek kognitif, kreatif, afektif, dan konatif melalui sekolah otonom. Memanfaatkan sukarelawan dari alumnus atau penggiat, anak-anak yang terpinggirkan itu dididik sampai usia 18 tahun.

”Setelah itu kami melanjutkan hidup. Saya sekarang kuliah sekaligus mengajar bahasa di sanggar,” kata Saneri, alumnus dan pengurus.

Ketua Yayasan Anak Akar Soesilo Adinegoro mengatakan, eksistensi sanggar bergantung dari hasil penjualan jasa dan lelang karya mandiri (75 persen) dan donasi dari sahabat akar (25 persen).
Kemarin, mereka juga menawarkan kepada rombongan Iska dan Ikesa hasil seni rupa lukis dan patung karya alumni sanggar yang kini menjadi pematung dan pelukis profesional. Rombongan menyerahkan bantuan uang tunai, tiga gitar akustik, dan seperangkat komputer dan alat multimedia untuk membantu pembelajaran anak-anak sanggar.

Di sanggar, anak-anak terpinggirkan itu kini bisa belajar banyak hal. Mereka juga hidup dalam kebersamaan memelihara sanggar. Untuk memasak pun, mereka masih memakai kayu bakar yang didapat di lingkungan sekitar. Sanggar adalah rumah kehidupan sekaligus rumah perubahan untuk mereka yang pernah merasakan getir pahit kehidupan jalanan.

Sanggar Anak Akar tidaklah sendiri. Masih banyak sanggar atau lembaga masyarakat yang turut mengurusi anak-anak terpinggirkan di tengah keterbatasan pemerintah. Dinas Sosial DKI Jakarta mencatat ada 7.400 anak jalanan. Sebanyak 4.900 dibina pemerintah, sementara 2.500 anak lainnya belum terjamah binaan. Keberadaan anak jalanan adalah wajah nyata kemiskinan yang membelit Ibu Kota. Masalah ini masalah kita bersama, ya pemerintah ya masyarakat. (Ambrosius Harto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top